Festival produk daur ulang sampah resmi dibuka Sekretaris Daerah Kutai Kartanegara, H. Sunggono, pada Minggu (30/11) di Taman Tanjong. Acara ini sekaligus menandai peluncuran gerakan pegiat daur ulang sampah di Kukar. Kegiatan tersebut menjadi wadah untuk menampilkan kreativitas masyarakat dalam mengolah limbah menjadi produk bernilai.
Sebelum pembukaan, Sunggono bersama jajaran camat dan OPD meninjau beragam karya yang dipamerkan para pegiat. Mereka melihat hasil kreasi seperti pot bunga, kotak tisu, dan berbagai kerajinan berbahan limbah rumah tangga. Peninjauan dilakukan sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas masyarakat.
Ketua panitia, Henny Amiruddin, menjelaskan bahwa pelatihan daur ulang sampah telah berlangsung hampir sembilan tahun. Ia menyebut, “pesertanya tercatat 1.632 orang. Dan mereka ingin bergabung dengan pegiat daur ulang.” Henny menambahkan bahwa dukungan dari berbagai dinas semakin memperkuat gerakan yang telah berjalan ini.
Ia juga merinci bahwa pelatihan terbaru dilakukan di beberapa desa di Kecamatan Sebulu. “Gerakan ini harus terus bergerak jangan stop,” ujarnya. Menurutnya, prioritas bagi para pegiat akan terus diberikan, terutama dalam akses pasar dan ruang berkarya.
Henny menuturkan bahwa karya daur ulang dari Kukar pernah mendapat kehormatan ditampilkan dalam acara nasional. Ia menyampaikan, “Pihaknya mendapat kehormatan oleh Tim Kepresidenan hasil karya daur ulang sampah menjadi acesoris atau cendramata di meja Presiden dan menteri-menteri VIP pada saat MTQ Tingkat Nasional Ke-30.” Hal ini menjadi penyemangat para pegiat untuk terus menghasilkan produk kreatif.
Pada kesempatan yang sama, Sekda Kukar menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi-misi Bupati Kukar. “Apa yang kita lakukan itu, Insya Allah sudah sejalan dengan Visi-Misi Bupati Kukar,” kata Sunggono. Ia menilai gerakan daur ulang dapat berkembang sesuai potensi masing-masing desa.
Sunggono juga mengajak para pegiat sampah untuk melihat peluang ekonomi baru melalui budidaya maggot BSF. Ia menjelaskan rencana pembangunan kandang ayam petelur di 17 kecamatan untuk mendukung program makan bergizi gratis. Menurutnya, ulat maggot berpotensi menjadi bahan baku pakan yang sangat dibutuhkan.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya mengedepankan konsep 3R dalam pengelolaan sampah. “Tujuan utama pendekatan 3 R adalah untuk meminimalkan timbunan sampah,” ujarnya. Ia berharap gerakan ini menjadi bagian dari kesadaran kolektif masyarakat Kukar dalam menjaga lingkungan.





