Paperkaltim.id, Samarinda – Tekanan ekonomi global kembali meningkat seiring eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga minyak dunia. Dampak dari kondisi ini turut dirasakan di dalam negeri, mulai dari kenaikan biaya logistik hingga melemahnya nilai tukar rupiah.
Situasi tersebut membuat daya beli masyarakat mengalami tekanan. Selain itu, ketidakpastian terhadap pendapatan juga meningkat di berbagai sektor, sehingga memicu kekhawatiran dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dihadapkan pada pilihan penting terkait prioritas keuangan. Mulai dari investasi, memperbesar dana darurat, hingga menjaga ketersediaan uang tunai menjadi pertimbangan utama.
Perencana keuangan OneShildt, Budi Rahardjo, menjelaskan bahwa keputusan tersebut sangat bergantung pada kondisi keuangan masing-masing individu. Ia menilai stabilitas penghasilan menjadi faktor penentu utama.
“Jika memang kita secara income tetap stabil dan mampu menghadapi gejolak situasi keuangan saat ini, maka kita bisa melakukan investasi rutin untuk jangka panjang untuk mendapatkan aset investasi bernilai yang sedang terkoreksi nilainya,” ujarnya.
Namun demikian, ia mengingatkan agar masyarakat lebih berhati-hati jika kondisi keuangan mulai terganggu. Risiko investasi, menurutnya, perlu dipertimbangkan secara matang.
“Apabila kondisi keuangan terganggu, maka lebih bijak menghindari beberapa instrumen investasi berisiko terlebih dahulu,” tambahnya.
Lebih lanjut, ia menyarankan peningkatan dana darurat jika terdapat potensi gangguan penghasilan. Dalam kondisi tertentu, porsi dana darurat bahkan bisa ditingkatkan hingga setara 6 hingga 12 bulan pengeluaran.
“Untuk situasi di mana penghasilan mungkin masih stabil, namun kita bisa memprediksi bahwa bisa jadi pekerjaan atau bisnis dalam beberapa bulan ke depan dapat terganggu, maka meningkatkan likuiditas dan memperbesar porsi dana darurat menjadi pilihan,” tuturnya.





