AS dan China Buka Lembaran Baru, Trump dan Xi Bahas Arah Hubungan Ekonomi Dunia

Kamis, 30 Oktober 2025 05:38 WITA

BUSAN – Untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping kembali bertatap muka. Pertemuan bersejarah itu berlangsung di Pangkalan Udara Gimhae, Busan, Korea Selatan, Kamis (30/10/2025), di sela rangkaian Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) APEC.

Pertemuan dua pemimpin negara ekonomi terbesar dunia itu menjadi sorotan global. Dunia menaruh harapan besar agar dialog ini bisa menjadi langkah awal menuju meredanya perang dagang yang selama beberapa waktu terakhir mengguncang stabilitas ekonomi internasional.

Trump yang baru kembali menjabat sebagai Presiden AS sejak Januari lalu, menyebut pertemuan ini sebagai momen penting dalam membangun kembali hubungan diplomatik kedua negara.

“Saya berharap pertemuan yang sangat sukses. Presiden Xi adalah seorang negosiator yang tangguh,” ujar Trump sesaat sebelum memulai pembicaraan, seperti dikutip dari AFP dan CNN.

Sementara Xi Jinping menyambut positif pertemuan itu. Ia menyampaikan kegembiraannya dapat kembali bertemu langsung dengan Trump setelah sekian lama.

“Saya senang bertemu dengan Presiden Trump. China dan Amerika Serikat harus berupaya menjadi mitra dan sahabat, meski tidak selalu sependapat,” tutur Xi.

Xi juga menegaskan perlunya kedua negara besar itu memikul tanggung jawab global bersama untuk menciptakan stabilitas dan kesejahteraan dunia.

“China dan AS dapat bersama-sama memikul tanggung jawab kita sebagai negara besar dan bekerja sama demi kebaikan kedua negara dan dunia,” ujarnya.

Pertemuan ini menjadi puncak dari kunjungan lima hari Trump ke Asia, yang mencakup beberapa negara mitra strategis di kawasan tersebut. Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan ekonomi, kehadiran kedua pemimpin di Busan dipandang sebagai sinyal diplomatik untuk mencari keseimbangan baru.

Selama berbulan-bulan, hubungan AS–China diwarnai ketegangan akibat kebijakan saling balas tarif, pembatasan ekspor, hingga sanksi lintas sektor. Konflik tersebut memukul berbagai bidang — dari teknologi tinggi, logistik, hingga perdagangan bahan baku penting seperti logam tanah jarang.

Dalam pembicaraan kali ini, isu utama yang diperkirakan dibahas meliputi ketidakseimbangan perdagangan, kebijakan tarif, pembatasan akses teknologi, serta peran China dalam peredaran fentanyl ilegal — yang menjadi perhatian serius Washington.

Meski belum ada kesepakatan konkret yang diumumkan, pertemuan Trump dan Xi di Busan menjadi sinyal positif bagi stabilitas ekonomi global yang tengah bergejolak. Dunia kini menanti apakah pertemuan itu akan membuka jalan menuju kerja sama yang lebih konstruktif antara dua kekuatan besar dunia tersebut.

Bagikan:
Berita Terkait