Jakarta – Indonesia tengah melangkah menuju tonggak penting dalam pembangunan infrastruktur energi nasional. Di Balikpapan, sebuah kilang raksasa dengan kapasitas olahan 360 ribu barel per hari (bph) kini berdiri hampir sempurna dan segera memperkuat ketahanan energi Tanah Air. Kilang tersebut merupakan bagian dari Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan, salah satu Proyek Strategis Nasional yang menjadi prioritas pemerintah untuk meningkatkan kemandirian industri pengolahan minyak.
Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), Taufik Adityawarman, mengungkapkan bahwa progres pembangunan fisik kilang telah mencapai 96,97%. Sejumlah fasilitas penting juga mulai beroperasi. Sejak 17 September 2025, Saturated LPG Treater mulai memproduksi LPG perdana sebagai salah satu penanda bahwa transformasi RDMP berjalan sesuai rencana.
Seiring mendekati fase akhir, proses commissioning di beberapa fasilitas kunci terus dikebut. Salah satunya adalah Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC), unit yang akan memproduksi bahan bakar bernilai tinggi.
“Insya Allah proses commissioning RFCC selesai tahun ini. Setelah itu, unit ini akan mulai menghasilkan gasolin, LPG, propylene, hingga diesel,” jelas Taufik dalam RDP bersama Komisi VII DPR RI, Selasa (18/11/2025).
Kehadiran RFCC akan menjadi lompatan signifikan dalam kemampuan Indonesia mengolah minyak menjadi produk bernilai tambah tinggi, sekaligus menekan ketergantungan impor produk olahan.
Menurut Taufik, KPI kini berfokus memperkuat strategi pengadaan komponen terbesar dalam struktur biaya kilang. Upaya ini dilakukan melalui efisiensi pengadaan minyak mentah, pemanfaatan suplai domestik, hingga kerja sama dengan pemerintah dan regulator energi.
KPI juga memperkuat koordinasi dengan SKK Migas dan Kementerian ESDM untuk memaksimalkan penyerapan minyak mentah dalam negeri. Strategi itu diharapkan mampu menurunkan alpha crude oil, yaitu selisih biaya distribusi yang biasanya timbul dalam impor minyak.
“Kami juga mendukung program pemerintah terkait resiprokal tarif dengan AS agar impor minyak mentah bisa tetap ekonomis namun tetap mendukung keseimbangan perdagangan kedua negara,” tambahnya.
Langkah efisiensi tersebut menjadi pondasi penting untuk memastikan kilang RDMP tidak hanya besar secara kapasitas, tetapi juga kompetitif dalam struktur biaya. Inilah bagian dari transformasi industri pengolahan yang menempatkan Pertamina sebagai pemain regional yang semakin efisien.
Dengan kapasitas olahan 360 ribu bph, Kilang Balikpapan akan menjadi kilang baru terbesar di Indonesia, melampaui Kilang Cilacap yang berkapasitas 345 ribu bph. Peningkatan kapasitas ini berdampak langsung pada produksi BBM nasional.
Total produksi BBM kilang ini nantinya mencapai 339 ribu bph, melonjak dari sebelumnya 197 ribu bph. Rinciannya:
- Bensin: 142 ribu bph (sebelumnya 42 ribu bph)
- Solar: 156 ribu bph (sebelumnya 125 ribu bph)
- Avtur: 41 ribu bph (sebelumnya 30 ribu bph)
Jika dikonversi, RDMP Balikpapan akan memproduksi 53,9 juta liter BBM per hari, kapasitas yang secara langsung dapat memperkuat suplai dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada impor.
Untuk produk non-BBM, kapasitasnya ikut melonjak drastis:
- LPG: 384 KTPA (sebelumnya 48 KTPA)
- Propylene: 225 KTPA (sebelumnya tidak tersedia)
Kapasitas propylene ini sangat bernilai karena merupakan bahan dasar industri petrokimia, yang membuka peluang ekspansi industri hilir dan peningkatan nilai tambah nasional.
Dengan hampir rampungnya proyek RDMP Balikpapan, Indonesia berada di ambang memiliki salah satu kilang paling modern dan efisien di kawasan. Kehadiran kilang ini tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas pengolahan, tetapi juga sebagai pendorong industri turunan, peluang investasi, hingga penguatan rantai pasok energi nasional.
Melalui transformasi besar ini, KPI menegaskan komitmennya mendukung kemandirian energi Indonesia dengan teknologi yang lebih mutakhir, produksi yang lebih besar, dan efisiensi yang lebih baik—membawa Indonesia selangkah lebih dekat menuju ketahanan energi yang berkelanjutan.
